Senin, 2009 Juli 06

Irama Hidup

Terkadang ada juga rasa lelah, capek setelah berusaha beberapa kali dan hasil yang aku inginkan belum juga terlihat di depan mata.

Terkadang ada juga rasa menggerutu yang keluar dari mulut dan hati ini.

Melihat orang lain melakukan hal yang aku ajak untuk berbuat baik belum bisa menerima apa yang aku ajarkan.

Terkadang aku sempat berpikir, penting ya, peduli dengan itu semua?

Apa pengaruhku bila aku marah dan tidak setuju dengan semua keadaan yang tidak sesuai dengan yang kuharapkan. Hati benci malah jadi sia-sia dan merugikan diri sendiri.

Tenaga dan pikiran habis..

Lelah..

Aku baru-baru ini membaca tulisan Pak Agung Webe, seorang motivator.

Kata beliau, Dunia jelas akan berjalan sesuai irama yang dimilikinya sendiri. Manusia juga punya irama yang dikenal dengan sebutan ‘takdir’ dan setiap manusia memiliki irama sendiri-sendiri.

Dan pertanyaan apa hak kita untuk mengacaukan irama itu? Apa hak kita untuk mengubah irama itu, Kita punya tanggung jawab terhadap irama yang kita mainkan, kita berhak atas not-not, tangga nada dan nada yang kita pilih. Itu semua akan menjadi simponi kita sendiri, menjadi sebuah orkestra yang kita buat.

Dari tulisan itulah, aku sadar, sudah saatnya menjalankan irama itu sendiri, dan apabila ada irama yang bertemu membentuk suatu orkestra yang menarik, tiada salahnya berjalan bersama. Tapi aku tidak akan memaksa.

Ttd

Hijrah Irama

Sabtu, 2009 Juni 27

Dodaidi The Story My Part

Semua orang punya impian, baik itu impian nyata sampai yang sulit dijangkau, layaknya punguk merindukan bulan.
Kali ini aku sedikit membantu seseorang mewujudkan impiannya. Bagiku membantu orang untuk mewujudkan impiannya, ada kebahagian tersendiri.
Awal pertemuan di Jogja Mall, saat itu aku sedang berjalan-jalan dengan sodara-sodaraku Kakang Mbakyu Malang 2006, Mbakyu Wida, Kakang Andri, Mbakyu Sindi, Kakang Bayu plus Kakang Rizal. Yang lain sibuk berbelanja, aku menunggu di Jogja Mall, karena selain tiada kepentingan berbelanja, aku ada janji dengan seorang teman, sebut saja Mr. T (diperagakan oleh model), menunggu lama…
Tetapi Tuhan berkata lain, ngga-ngga, aku ngga ditangkep satpam karena cakep, sama sekali bukan. Aku bertemu dengan seseorang yang rupa-rupanya sangat tiada asing bagiku. Beliau tersenyum ramah, aku masih terheran-heran, I know this guy! Tapi lupa namanya*bertanya-tanya dalam hati*
Aku tersenyum dan mencoba menyapa ramah *jurus andalan kalau ketemu orang tapi lupa namanya*, “Hae bang!”
Pria itu heran dan berpikiran, siapa ya, SKSD banget.
Ini Hijrah bang”, kataku cuek, sambil mengulurkan tangan.
“Najis loe!”, kata pria itu, terus dia menghilang dari hadapanku.
Aku bengong..

Haha, ngga-ngga, kalau gitu ceritanya udah habis duluan.
Aku disambut ramah oleh pria yang aku panggil abang itu, ya walaupun aku masih belum ingat juga siapa namanya, yang aku ingat beliau salah satu senior di Modal Bangsa yang dikagumi banyak adek-adek kelas.
Aku melirik kesebelahnya, ada seorang wanita yang senang senyam-senyum, aku berpikir cukup keras saat itu, do I know Her? Kayaknya ramah banget, apa salah satu dari kakak Kelas di Modal Bangsa juga, tapi siapa? Atau jangan-jangan dia ngga inget namaku sama seperti aku, jadinya senyam-senyum terus.
Untungnya pria itu dengan senang hati mengenalkan wanita itu kepadaku
“Ini Kak Ryan, Jrah, istri abang”, kata pria itu. sempet kaget juga, tapi bersyukur, kirain cuma aku aja yang bisa lihat cewek itu, sempet merinding disko..^-^
“Hae, kak Ryan, Hijrah” kataku sambil mengulurkan tangan.
Ini kesempatan buat aku, untuk mengetahui nama pria itu.
“Lagi mau belanja ya Kak Ryan?”, tanyaku basa-basi.
“Ngga Jrah, ini Cuma nemenin Bang Andi aja, jalan-jalan”, kata Kak Ryan sambil tersenyum.
Bang, Andi..hmm, aku jadi inget, Bang Restuandi. Yess, I get his name. Hahaha*tertawa dalam hati*
“Hijrah disini ngapain?kuliah udah selesai?kerja dimana?” Tanya bang Andi lagi.
“Eh, copot…copot..!”, ah, Bang Andi bikin kaget aku yang sedang tertawa dalam hati. “oh, ini lagi liburang sama temen-temen Kakang Mbakyu Malang bang, kuliah udah kelar, buka usaha aja di Malang, merchandise aja, Kadanha Design dan Irari Shop”, kataku sambil mengeluarkan salah satu produk yang aku buat untuk Irari Shop.
“Oh ya, wah, Kakak juga senang tu kayak gini-ginian”, kata Kak Ryan masih senyum-senyum sumringah.
Aku masih terheran-heran dengan Kak Ryan, what’s wrong with her?
“Oh ya, menarik tu Jrah, nanti kapan-kapan kita ngobrol ya tentang ini, soalnya abang ma kakak ada niatan untuk membuka toko pernak-pernik juga”, kata Bang Andi.
“Oke, bang, nanti kita ngobrol-ngobrol lagi deh”, kataku sambil melihat Mr. T yang kelihatan sudah tak sabar berambus.

Ya, itulah sepenggalah mula cerita yang masih akan berlanjut. Aku segera menemani Mr. mengejar cinta-nya di FKG UGM, melewati suasana Jogja yang hangat-hangat kuku.

Pertemuan Selanjutnya

Aku hari itu burgerak liburan ke Jogja, sendiri. Seperti biasa, silaturahmi dengan teman-teman Modal Bangsa lainnya dan teman-teman Dimas Diajeng Jogja. Aku dijemput Dimas Wawan, dan Dimas Ipam, expertnya wisata di Jogja. Inilah keuntungan jadi duta wisata, bisa punya saudara dimana-mana, dan mau nyari referensi wisata jadi lebih mudah dan menarik, apalagi dibayarin.hehe, matur suwun buat Dimas Wawan dan Dimas Ipam ya. Setelah beberapa saat aku, dijemput oleh Dr. Gara, sahabat terbaikku yang sedang menyelesaikan hidup lajangnya di Jogja. Hihi..

Seperti biasa, kalau udah di kosannya Gara, waktu dihabiskan dengan ngobrol ngalor ngidul, makan-makan dan shalat berjamaah.Tetep ya.^-^

Aku jadi inget, mumpung di Jogja, ngga ada salahnya ketemuan dengan Bang Andi dan Kak Ryan, telpon, ketemuan deh. Aku Dikasih alamat rumah kontrakkannya, “Ayo Gar, Kita ke Rumah Bang Restu!tau kan tempatnya” kataku ke Gara sambil melihatkan alamatnya, kami pun meluncur kesana. Ngga rugi deh punya sahabat baik seperti Gara, diajak kemana aja mau..hihihi.

Sesampai di rumah kontrakkan Bang Andi dan Kak Ryan, kami disambut dengan hangat. Dan Kak Ryan tetap dengan senyum sumringah, Gara heran, wajar..ekspresi untuk orang yang baru pertama sekali ketemu Kak Ryan, Aku tahu kok rasanya*berjalan sambil melempar poni*.
Di rumah kontrakkan itulah obrolan tetang usaha itu makin serius. Aku senang, mendengar cerita Kak Ryan, yang ternyata terdeteksi belakangan kalau biang kerok dari semua itu adalah Kak Ryan. Mendengar cerita Kak Ryan yang mengebu-gebu dengan semangat 2000, Akupun jadi tambah semangat untuk berusaha membantu, mewujudkan impian Kak Ryan dan Bang Andi.
Kami pun pulang setelah waktu menunjukkan pukul 21.00, acara selanjutnya meluncur ke warung Aceh, mencari Mie dan masakkan Aceh lainnya. Dalam perjalanan, Gara menceritakan keheranannya dengan Kak Ryan, tuh, apa aku bilang ^-^ dan aku menangkap ketertarikkan dia untuk menanyakan sesuatu hal kepada Bang Andi yang tak jadi diungkapkan, hehe*secret*iya, Gar, rahasia..*dipentung Gara*

Setelah kepulanganku ke Kota halaman, Sabang. Aku mendapat telepon dari bang Andi untuk membuatkan beberapa alternative logo untuk usahanya yang direncanakan bernama Dodaidi. Hmmm, nama yang unik dan Aceh Banget!! Untuk yang belum tahu arti Dodaidi, dodaidi itu lagu pengantar tidur yang biasa dinyanyikan orang tua di Aceh untuk anaknya. Dodaidi selain untuk menidurkan anak, ada pesan moral lain yang terkandung di dalamnya, hal ini lah yang menjadikan dasar Bang Andi dan Kak Ryan mengangkat nama usahanya Dodaidi, membuat aku tambah semangat lagi.*ya, namanya juga anak-anak*

Setelah melewati beberapa proses, sabtu tanggal 20 Juni 2009, toko Dodaidi grand opening di Jalan Tentara Pelajar No.109, Banda Aceh. Ya walaupun, aku tidak bisa hadir disana, tapi aku bisa merasakan kebahagiannya. Selama proses pengerjaannya aku sangat menikmatinya. Semoga usahanya berjalan lancer dan membawa manfaat yang banyak untuk orang lain.

Ini ada beberapa foto yang sempat tertangkap kameraku.

Senyam-senyum sumringah, itulah Kak Ryan Sungguh bahagia wajah Kak Ryan ketika pemasangan Neon Box Dodaidi, menunjukkan impiannya bentar lagi terwujud.

Bersama Kasir amatiran handal, yang lagi lucu-lucunya.

Ya, walaupun keamanan udah dijamin, yang pake helm juga boleh masuk kok.

Sabtu, 2009 Juni 20

Escape Velocity Part 2

Escape Membawa Malu
Kabur ngga selamanya musti manjat tempat cuci Barak Bayan dan Barak Merpati, Ternyata ada juga kabur yang elegan, dan itu aku pelajari ketika aku beranjak dewasa seperti Rani. Dulu masih hot-hotnya Sheila on Seven.
“Beranjak dewasa kakak ku Rani tercinta, udah saatnya belajar berpijar”, seperti itulah semangatku saat itu, berpijar..
Kali ini aku belajar kabur dengan cara yang elegan, belajar melewati rintangan yang menghalangi di depan, dan belajar berbohong. Ngga aku banget!^-^
Rintangan yang menghalangi di depan adalah bapak-bapak PKD, yang bertugas menanyakan siapa saja yang masuk dan keluar Kampus Modal Bangsa.
Layaknya taman hiburan, selalu saja ada yang baru. Modal Bangsa begitu juga, sebut saja sebuah warung mie di seberang jalan raya yang posisinya di luar asrama, seakan tidak puas dengan warung mie di dalam kampus, kami pun belajar dunia luar dalam hal ini warung mie tersebut. Layaknya perkataan orang bijak tempo doeloe, “Memang manusia tidak pernah ada puasnya”(ini menunjukkan kalau Anak Modal Bangsa juga manusia-red). Akan tetapi bukan Cuma itu, warung itupun akhirnya menjadi kambing hitam untuk segala urusan..padahal yang dijual disana Cuma Mie dan kopi, akan tetapi yang mengherankan kenapa kakak-kakak kelas dan abang kelas yang balik darisana bisa membawa barang-barang lain? Seperti buku, peralatan belajar lain dan kerang rebus?hmmm.alangkah amat sangat bener-bener lengkap warung di depan kampus itu.
Sampai suatu saat fakta-fakta barupun terungkap setajam pisau!
Aku memperhatikan teman-teman yang sudah mengalami akulturasi dengan kakak abang senior.
“Pak, ijin mau keluar ke warung depan”, kata seorang teman berinisial R, dan diperagakan oleh model. Akupun demikian adanya.
Aku terus mengikuti temanku, berjalan lurus ke depan, menyebrang jalan dua kali dan sampailah kami di warung di depan kampus. Aku melihat di sekeliling warung, sampai isi-isinya, tidak ada yang istimewa, yang ada hanya kopi, mie, syrup kuning, susu, abang pemilik warung dan temanku, ya layaknya warung-warung kopi di Aceh. Ngga ada yang beda. Dan herannya lagi, temanku yang berinisial R itu tidak memesan apapun di warung, INI ANEH?!
Hingga beberapa saat kemudian, benda itu datang menghampiri. Bentuknya bulat lonjong, panjang, ada rodanya 4 dan terbuat dari besi.tidak salah lagi itu Labi-Labi, sebutan angkutan umum di Aceh. Temanku naik dan menghilang secepat mungkin bersama Labi-Labi, ntah kemana. Wah, ini motif baru untuk kabur dari asrama, idea bagus..perlu dicoba, pikirku dalam hati dan orang ketiga pastinya. (setan.red)
Waktupun berlalu..haripun berganti, yang namanya kebiasaan buruk memang bisa menular kemana dan kesiapa aja, dan ngga perlu heran, karena kebiasaan buruk biasanya enak.hehe.
Sebutlah seorang pelajar berinisial H, oke,oke, anak itu aku, Hijrah. Dia sedang mengikuti segerombolan pelajar lain yang teridentifikasi sebagai sodara seperjuangannya satu letting. Merekapun berjalan kearah PKD sambil membawa peralatan yang bisa dibilang wajar sebagai seorang pelajar Modal Bangsa, buku pelajaran, dan kamipun, pergi ke “warung depan kampus”. Kamu tahu kan maksudnya?^-^
Alasan kami ke “warung depan kampus” beramai-ramai adalah bermain Game Online, Counter Strike (CS), I waw,..sungguh luar biasa warung depan kampus itu. Dan alasan khususnya bagi aku, aku penasaran dengan game yang lagi HOT-HOTnya saat itu. Jadi ya gimana lagi, “terpaksa” aku mengikuti mereka.
Sesampainya di “warung depan kampus (baca warnet yang menawarkan game OL), aku baru menyadari sesuatu hal yang jarang terjadi dalam hidupku, aku lupa membawa dompet. Jadi, karena hal teknis itu pula, aku memutuskan untuk pisah dari gerombolan pelajar pencinta CS tersebut dan balik kembali ke kampus tercinta. Ya, keadaan yang membuatku seperti ini, seleksi alam terbukti disini, yang harus tereliminasi saat itu, aku.
Waktupun berlalu, semua gerombolan anak pecinta CS itu kembali ke asrama. Mereka tidak menyadari hal yang menyenangkan awalnya tak selalu berakhir bahagia, dan ada juga hal yang tak menyenangkan berakhir dengan memalukan.
Kabar tak menyenangkan itu datang dari salah satu personel gerombolan pelajar pecinta CS, mampir di telinga.
“Kita ketahuan!”.
“lho, ketahuan?, maksudnya?”, yang laen bereaksi dan tetap tanpa ekspresi.
“Ya, kita ketahuan kabur!, nama kita semua yang maen CS dicatat di kepala asrama dan siap-siap dipanggil”, kata si teman dengan nada gusar tapi tegar menyampaikan berita segar nan bikin gemetar.
“Omak, wak gawat nampaknya ni!, kok bisa ketahuan sech?”, kata salah satu teman.
“Salah satu dari kita pasti ada yang berkhianat, dan melaporkan kita semua. Bukankah escape kita sudah sangat elegan, masak bisa ketahuan juga”. Kata seorang teman yang notabenenya termasuk pelajar pintar dan favorite di sekolah.
“Ya, dan kalian tahu siapa pelakunya? Mr. B. orang tuanya datang ke asrama, dan mencari anaknya, anaknya tiada ketemu, orangtuanya menanyakan kepada Kepala Asrama, dan tidak ada laporan sama sekali ijin di PKD, alhasil semua perbuatan mengasyikan itu terbongkar”, kata temanku itu dengan penuh dendam dan sesal.
“yach….”, yang laen Cuma bisa pasrah.
Aku? Lebih-lebih, sudah penasaran dengan CS, ngga jadi karena ngga bawa duit, pulang ke asrama, sesampai di asrama, dengar berita “kita ketahuan”, bakal kena hukuman atas perbuatan yang setengah aku lakukan. “Aseeemmm”.
Kata-kata Pak Uztad di Sabang kembali terngiang-ngiang, “pilihlah teman yang akan membawamu dalam kebajikkan”
“Ah, bapak datingnya telat, semua sudah terjadi pak”. Gerutuku.
Dan, hasil laporan dari seseorang itulah, kami semua mendapat hukuman, perlu kalian tahu, saat itu asrama Modal Bangsa sedang popular dengan “anjing yang sangat mengganggu tidur malam yang asyik”, dan karena alasan itulah populasi anjing di Modal Bangsa harus diminimalisasikan, karena tidak sesuai dengan populasi pelajar di sana, teorinya satu rumah cukuplah satu anjing, itupun kalau suka, kalau tidak suka sebaiknya jangan ada satu anjingpun, dan jangan pula ditambah dengan anjing-anjing yang lain. Sebagai contoh, janganlah menyebut teman dengan Anjing, walaupun mirip.”It’s big No no”.
Jadi, hasil kabur kemarenpun kami mendapat buahnya, kami mendapat penghargaan dari Kepala Asrama untuk menguburkan anjing-anjing yang telah mati diracun. Aku ngga suka anjing, tapi apa boleh buat, kali ini tantangannya berhubungan dengan anjing. Dan lebih parahnya lagi anjing-anjing yang mati itu tidak pada tempatnya, akan mati seenaknya, dasaaaaaaaaaar, anjiiiiiiiing, udah mati masih aja nyusahin.
Aku kebagian tugas bersama Haqul, partner in crime, kami mencari-cari dimana lokasi anjing yang tersisa. Dan…kami mendapatkannya di Barak Mawar, hal ini pun dilaporkan oleh warga di sekitar barak Mawar, yaitu Ketua Barak Mawar, Nisa. Ah, sungguh manis anak ini..perkataanya buat aku melayang bersama mimpi indah.
Srttttt, tiba-tiba bayangan indahku jadi kacau beliau, tunggu dulu, Anjingnya di Barak MAwar? Dan ini berarti aku harus menarik anjing di Barak Mawar dan disaksikan oleh seluruh warganya? Termasuk Nisa. Alamak! Mau ditaruh dimana harga diriku yang Cuma segini ini. Pasrah
Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan pernah lagi..lagi…escape yang ketahuan, kalo escape-nya masih…hahaha..
Bila itu tiba, semua tersenyum bahagia^-^